EMAS TERSEMBUNYI DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI YOGYAKARTA


Oleh: Hasyrul Hamzah, S. Farm., M.Sc.

 

Menurut Susantyo (2011) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Taman nasional ini merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli berupa perpaduan ekosistem gunung berapi dengan hutan dataran tinggi dan pegunungan yang dikelola dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Sobat,  Kawasan TNGM memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan yang tergolong tinggi. Antara lain tercatat sekitar 1.000 jenis tumbuhan termasuk 75 jenis anggrek langka dan beberapa jenis bunga, rotan, jamur dan rerumputan di TNGM juga terdapat jenis mamalia kecil dan besar, 147 jenis burung termasuk 90 jenis diantara burung-burung yang menetap.

Kawasan hutan Gunung Merapi mempunyai ekosistem yang dinamis akibat erupsi Gunung Merapi yang merubah ekosistem di dalam kawasan hutan, termasuk ekosistem tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah merupakan salah satu komponen penting penyusun ekosisem hutan yang peranannya harus diperhitungkan. Komposisi dan keanekaragaman tumbuhan bawah ikut menentukan struktur hutan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada fungsi ekologis hutan

Sobat, menurut Ari Nurwijayanto S. Hut., M.Sc, tumbuhan bawah di gunung merapi sekitar 160 berbagai spesies tanaman dan berbagai spesies tanaman ini telah di identifikasi.

 

 

Keanekaragaman tumbuhan bawah gunung merapi ini memberikan angin segar bagi dunia kesehatan terutama dalam pencarian senyawa kandidat obat Antibiofilm baru dari tumbuhan.

Sobat, Menurut National Institutes of Health mengatakan biofilm kini menjadi mediator utama pada kejadian infeksi kronis, dengan perkiraan 80 persen kejadian infeksi dalam tubuh manusia berhubungan dengan biofilm. Misalnya infeksi saluran urin, infeksi catheter, infeksi telinga tengah, pembentukan dental plaque dan gingivitis dan infeksi cystic fibrosis.

Biofilm sebagai pertahanan bakteri relatif lebih sulit diberantas dengan antibiotik, dengan demikian bakteri patogen dalam bentuk biofilmnya dapat menimbulkan masalah serius bagi kesehatan manusia. Biofilm merupakan kumpulan sel-sel mikroba yang melekat secarairreversibel pada suatu permukaan dan terbungkus dalam matriks Extracellular Polymeric Substances (EPS) yang dihasilkannya sendiri serta memperlihatkan adanya perubahan fenotip seperti perubahan tingkat pertumbuhan dan perubahan transkripsi gen dari sel planktonik atau sel bebasnya

Sobat, proses pembentukan biofilm terdiri dari lima tahap. Pada tahap pertama, sel-sel bakteri saling menempel pada permukaan substrat akibat pengaruh gaya Van der Waals. Pada tahap ini, proses perlekatan sel masih bersifat sementara, namun pada tahap kedua, sel-sel bakteri telah menempel secara permanen akibat terbentuknya material eksopolimer yang merupakan suatu senyawa perekat yang lebih kuat. Tahap ketiga ditandai dengan terbentuknya mikrokoloni dan biofilm mulai terbentuk. Sementara pada tahap keempat, biofilm yang terbentuk semakin banyak dan membentuk struktur tiga dimensi yang mengandung sel-sel terselubung dalam beberapa kelompok yang saling terhubung satu sama lainnya. Pada tahap terakhir, perkembangan struktur biofilm mengakibatkan terjadinya dispersi sel sehingga sel-sel tersebut lepas dari biofilm, menempel pada substrat baru dan membentuk biofilm yang baru.

Biofilm mikroba berfungsi sebagai pelindung sehingga mikroba yang membentuk biofilm biasanya mempunyai resistensi terhadap antimikroba biasa dan terhindar dari sistem kekebalan sel inang. Biofilm berkembang seiring dengan bertambahnya infeksi klinis pada sel inang, sehingga biofilm ini menjadi salah satu faktor virulensi dan penyebab terbesar terjadinya resistensi. Unit struktural dari biofilm berupa mikrokoloni dan proses dasar pembentukan dari biofilm seperti mekanisme quorum sensing, resistensi antimikroba, dan perlekatan substrat dapat menerangkan interaksi fisiologis dari mikrokoloni dalam biofilm yang telah matang.

Biofilm terutama terdiri dari materi matriks (85 persen dari volume) dan kumpulan sel-sel bakteri (15 persen dari volume). Extracellular Polymeric Substances (EPS) menyusun 50 persen – 90 persen karbon organik biofilm dan dapat dianggap sebagai material matriks yang utama. Komposisi EPS bervariasi secara fisik dan kimia serta bersifat hidrofilik karena dapat mengikat air dalam jumlah yang banyak, dengan tingkat kelarutan yang berbeda-beda.

Sobat dampak negatif biofilm dalam dunia kesehatan yang paling sering kita temui disekitar kita salah satu contohnya adalah karang gigi. Karang gigi biasanya adalah lapisan biofilm dari bakteri streptococcus. Biofilm yang dapat terdiri dari multi lapisan ini menempel pada permukaan gigi dan dapat menyebabkan caries gigi.

Sobat, Infeksi bakteri dan infeksi jamur yang disebabkan oleh biofilm sangat sukar diobati. Untuk membunuh bakteri maupun jamur dalam bentuk biofilm membutuhkan 1000 kali dosis antimikroba yang diperlukan untuk mencapai hasil yang sama seperti pada sel planktonik.

Biofilm dalam tubuh manusia biasanya menjadi masalah ketika terjadi pencangkokan organ buatan. Koloni mikroorganisme patogen dalam bentuk biofilmlah yang biasanya menyebakan infeksi dan penolakan penanaman organ baru tersebut ke tubuh pasien. Mikroba penghuni biofilm yang menutupi permukaan organ buatan itu sulit dijangkau oleh antibiotik dan dapat menyebabkan infeksi yang berujung pada penolakan tubuh terhadap organ yang dicangkok.

Capture2

Berbagai tanaman telah di uji sebagai antibiofilm pada S. aureus, E. coli, P. aeruginosa dan C. albicans di Taman Nasional Gunung Merapi Yogyakarta di antaranya Allaeophania rugosa Blume, Begonia multangula Blume, Eleutherine Palmifolia (L.,) Merr, Centella asiatica L., Scutellaria discolor Colebr, Piper Sulcatum Sodiru, Oxalis corniculata Sodiru, Hierochloe horsfieldii (Kunth. Ex Benn), Acyranthes aspera L. Ageratum conyzoides L., Borreria latifolia (Aubl.) K. Schum.

Diantara ke 11 tanaman ini, tanaman Scutellaria discolor Colebr memiliki aktivitas terbaik diantara tanaman lainnya terhadap biofilm S. aureus, E. coli, P. aeruginosa dan C. albicans, dimana Scutellaria discolor Colebr memberikan aktivitas penghambatan tertinggi pada biofilm E. coli sebesar 85 %, P. aeruginosa 79 %, C. albicans 70 % dan S. aureus 68 % pada fase 24 jam. Sedangkan pada biofilm fase 48 jam, Scutellaria discolor Colebr memberikan aktivitas penghambatan tertinggi pada biofilm E. coli 78 %, C. albicans 67 %, P. aeruginosa 65 % dan S. aureus 55 %.

Sobat, melihat Potensi ini, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan hutan kita, terutama di Taman Nasional Gunung Merapi Yogyakarta yang memilki sumber keanekaragam hayati yang melimpah, dikarenakan di tempat inilah harta karun untuk sumber daya alam penghasil kandidat obat baru untuk dunia kesehatan banyak ditemukan.

Sebagai anak bangsa sudah seharusnya kita patut berbangga memiliki Taman Nasional Gunung Merapi, karena Taman nasional ini menjadi penghasil tumbuhan obat yang beraneka ragam yang sangat dilirik oleh negara lain, dan keanekaragam flora dan fauna kita menjadi kedua terbesar di dunia setelah Brazil.

Sobat mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan Hutan kita agar anak cucu kita nanti dapat menikmatinya.

Hijau hutanku……………..

Lestari alamnya……………

Makmur negeriku…………

Selamat Memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia dan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2019.

 

Yogyakarta, 14 Juli 2019

(hasyrulhamzah@gmail.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: