PERAN SERTA APOTEKER DALAM PENGEMBANGAN SAINTIFIKASI JAMU


PENDAHULUAN

Penemuan dan perkembangan obat telah melalui perjalanan yang panjang. Dari jaman ketika obat masih dikaitkan dengan penyembuhan spiritual, hingga saat ini ketika teknologi pengobatan telah berkembang pesat. Manusia pada awal mulanya menggunakan tanaman/bagian tanaman dan material hewani/mineral untuk pengobatan. Besar kemungkinan, obat ditemukan melalui kombinasi eksperimen trial and error serta observasi atas reaksinya terhadap manusia/hewan. Penemuan obat tradisional (OT) kemudian mulai memasuki awal era ilmiah pada akhir tahun 1800an, sejak saat itu semakin banyak obat ditemukan. Industri farmasi modern kemudian muncul setelah masa Perang Dunia I. Mulai dari saat inilah, penemuan obat kemudian semakin mantap dan didasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah. Obat-obatan kemudian diproduksi dalam skala besar, berlawanan dengan penggunaan obat dahulu yang biasanya diproduksi dalam skala yang relatif kecil (Rick Ng, 2009).

Obat tradisional (OT) juga telah digunakan di Indonesia sejak jaman meso-neolitikum. Penggunaan ramuan-ramuan untuk pengobatan telah tercantum dalam banyak sumber sejarah di Indonesia. Istilah jamu muncul sejak abad 15-16 M yang tersurat dalam primbon di Kartasuro. jamu berasal dari kata “Djamoe” yang merupakan singkatan dari kata Djampi (doa/obat) dan Oesodo (husada/kesehatan). Uraian jamu secara lengkap terdapat di Serat Centini yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Adipati Anom Mangkunegori III (1810-1823) (Purwaningsih, 2013; Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, 2011).

Saat ini dunia kefarmasian modern telah berkembang di seluruh dunia. Meskipun demikian, banyak masyarakat masih memegang budaya mereka untuk menggunakan obat tradisional (Rick Ng, 2009) dan jamu telah menjadi bagian budaya dan kekayaan alam Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan biodiversitas terbesar kedua setelah Brazil (Sutrisna, 2016). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010 menunjukkan bahwa 60% penduduk Indonesia diatas usia 15 tahun menyatakan pernah minum jamu, dan 90% diantaranya merasakan adanya manfaat konsumsi jamu (Aditama, 2014). Selain itu, survey perilaku konsumen dalam negeri menunjukkan 61,3% responden mempunyai kebiasaan meminum jamu (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, 2011). Andriati dan Wahjudi (2016) juga menemukan bahwa penerimaan penggunaan jamu sebagai alternatif obat konvensional pada masyarakat ekonomi rendah-menengah dan atas masuk dalam kategori tinggi (58%). Potensi yang dimiliki jamu juga cukup baik, mengingat tanaman obat masuk ke dalam 10 komoditas potensial untuk dikembangkan, didukung oleh fakta bahwa bahan tanaman obat tersebut banyak didapatkan dari dalam negeri. Secara perekonomian, industri jamu juga berkontribusi besar bagi pendapatan nasional (Muslimin dkk., 2009). Dengan kata lain, jamu memiliki potensi yang baik untuk terus dikembangkan.

 

URGENSI DAN TANTANGAN OBAT TRADISIONAL, SERTA PERANAN APOTEKER DI DALAMNYA

 

Dengan adanya potensi, munculah tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Komposisi jamu yang beragam dan kurangnya kajian ilmiah akan manfaat dan keamanan jamu menjadi salah satu tantangan paling umum yang harus dihadapi. Dengan tujuan untuk memastikan tersedianya jamu yang aman dan memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, pemerintah kemudian menerbitkan Permenkes 003/MENKES/PER/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan. Saintifikasi Jamu adalah pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan (Depkes RI, 2010).

Peran apoteker dalam kegiatan Saintifikasi Jamu dapat dilakukan dengan; 1) menerapkan pekerjaan kefarmasian dalam Saintifikasi Jamu 2) pengadaan jamu berkualitas 3) penyimpanan dan distribusi jamu 4) melakukan Pharmaceutical Care 5) melakukan Pharmaceutical Record 6) pengembangan produk jamu saintifik : bentuk sediaan yang praktis (Aditama 2014).

Pada tahun 1978, para pakar jamu mendirikan Himpunan Ahli Bahan Alami Indonesia (HIPBOA). Dari sekian banyak pendiri HIPBOA, umumnya adalah apoteker dan hanya beberapa dokter. Peran apoteker dalam Permenkes Saintifikasi Jamu belum tersurat. Mengingat bekal yang telah diperoleh apoteker dalam dunia perkuliahannya, sudah sewajarnya apoteker (atau farmasis) memiliki peran yang cukup vital dalam pengembangan jamu. Berkembangnya jamu memberikan tuntutan profesional kepada apoteker untuk melakukan praktik kefarmasian dengan cakupan yang lebih luas. Perluasan cakupan tersebut akan memberikan dampak pada tuntutan profesional kepada apoteker dalam praktik kefarmasian yang diantaranya adalah Pengendalian Mutu Sediaan, Pengamanan, Pengadaan, Penyimpanan, Distribusi, Pelayanan dan Informasi OT, dan Pengembangan OT.

 

Meluasnya lingkup tanggung gugat seorang apoteker mencakup bidang sediaan tradisional timbul selaras dengan bertambah majunya perkembangan dibidang OT/Obat Tradisional”  (Suharmiati, dkk., 2011)

 

Dalam bidang Litbang, apoteker memiliki peranan dalam melakukan eksplorasi akan manfaat tanaman-tanaman obat di Indonesia yang belum banyak diketahui kegunaannya dan mengembangkannya ke tahapan yang lebih tinggi. Penemuan-penemuan yang dihasilkan dapat membantu memperkaya referensi yang ada. Disamping itu, apoteker juga berperan dalam mengembangkan sediaan jamu ke arah lebih baik. Pertama, mengembangkan bentuk sediaan jamu menjadi lebih praktis, higienis dan tahan lama. Kedua, mengembangkan formula/senyawa dalam jamu hingga tingkatan yang semakin tinggi (Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka).

Dalam fungsi pelayanan dan pemberian landasan ilmiah (evidence based) atas jamu, apoteker bersama tenaga kesehatan lainnya dapat melakukan evaluasi secara ilmiah terhadap praktik-praktik pengobatan tradisional. Obat Tradisional dapat berkontribusi secara signifikan dalam mendukung pengobatan pasien pada penyakit-penyakit tertentu (McClure dkk., 2014), dan mendukung upaya pengobatan yang menggunakan pendekatan Kedokteran Integratif/Integrative Medicine (Siswanto, 2012). Oleh karena itu, diperlukan pembuktian atas pemakaian obat tradisional terkait efektivitasnya dalam kesembuhan pasien. Penelitian kualitatif terhadap pasien yang menggunakan jamu juga merupakan hal yang penting. Untuk mendukung hal tersebut, apoteker juga harus membekali diri dengan keilmuan bidang herbal dan medis yang memadai.

Dalam fungsi terkait regulasi obat tradisional dalam mendukung Saintifikasi Jamu, apoteker berperan dalam aspek pengadaan dan pengelolaan jamu yang bermutu. Regulasi yang berorientasi pada mutu jamu dibuat oleh pemerintah, khususnya Badan POM. Regulasi tersebut kemudian diimplementasikan ke dalam cakupan operasional yang lebih kecil seperti pada perusahaan, klinik jamu, fasilitas pelayanan kesehatan dan tempat lainnya dimana apoteker juga berperan sebagai Penanggung Jawab Mutu/Kefarmasian.

Dalam fungsinya sebagai praktisi di lapangan, apoteker diharapkan dapat menjabarkan regulasi yang telah dibuat ke dalam prosedur operasional yang mengacu pada jaminan kualitas mutu. Pengamanan bahan, pengadaan, dan penyimpanan serta distribusi jamu/bahan jamu adalah bagian tak terpisahkan dari penjaminan mutu. Jamu dan Tanaman Obat memiliki kerumitan yang lebih tinggi dibanding bahan farmasi lainnya, mengingat cukup banyak aspek yang harus dikaji. Pemalsuan bahan harus dapat dihindari, pemenuhan kualitas bahan untuk digunakan sebagai obat juga harus terpenuhi. Aspek penyimpanan dan distribusi harus dilakukan dengan seksama agar dapat menjamin mutu obat tradisional/bahan obat tetap baik, yaitu dengan memenuhi cara penyimpanan dan cara distribusi yang sesuai.

 

KESIMPULAN

Kolaborasi tenaga kesehatan dalam mendukung pengembangan jamu/Obat Tradisional Indonesia sangatlah penting, khususnya di bidang Saintifikasi Jamu. Di sisi lain apoteker memiliki peran vital dengan cakupan yang luas, dari aspek pelayanan hingga aspek-aspek pendukung lain. Diantara banyak hal yang dapat dilakukan, dalam kaitannya dengan Saintifikasi Jamu, apoteker dapat berperan dengan cara; membekali diri dengan pengetahuan yang cukup serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam memberikan pelayanan kepada pasien, melaksanakan penelitian dan pengembangan jamu, membuat regulasi dan pengawasan yang baik, dan melaksanakan tugas sebagai praktisi dengan baik sesuai regulasi yang berlaku. Hal-hal tersebut merupakan tantangan serta tuntutan profesional bagi para Apoteker dalam peranannya membantu pengembangan jamu/Obat Tradisional Indonesia, khususnya Saintifikasi Jamu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aditama TY(2014). Jamu & Kesehatan.Jakarta: Lembaga Penerbit Balitbangkes.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI (2011) Roadmap Pengembangan Jamu 2011-2025. Jakarta.

Andriati, Wahjudi T. (RM) (2016) Tingkat penerimaan penggunaan jamu sebagai alternatif penggunaan obat modern pada masyarakat ekonomi rendah-menengah dan atas. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 29 No. 3 Tahun 2016, Hal. 133-145. FISIP Universitas Airlangga. Surabaya.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 003/MENKES/PER/I/2010. Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Depkes RI (2010). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Balitbangkes Jakarta dalam Aditama TY (2014). Jamu & Kesehatan. Lembaga Penerbit Balitbangkes, Jakarta.

McClure L, Flower A, Price S (2014). A Selective Review on behalf of the European European Herbal and Traditional Medicine Practitioner Association (EHTPA), EHTPA Publication, Tewkesbury.

Muslimin L, Wicaksena B, Setiyawan B, Subekti NA, Sukesi H, Surachman H, Santorio A, Karim I, Hartini S, Yulianti A, Setepu IC, Khaidir (2009). Kajian Potensi Pengembangan Pasar Jamu, Laporan Akhir, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Penelitian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Purwaningsih EH (2013). Jamu, Obat Tradisional Asli Indonesia: Pasang Surut Pemanfaatannya di Indonesia. eJournal Kedokteran Indonesia Vol. 1 No. 2 Agustus 2013,  Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

Rick Ng (2009) Drugs: From Discovery To Approval, Second Edition, Appendix 1 : History of Drug Discovery and Development, John Willey & Sons, Inc, New York.

Suharmiati, Handayani L, Bahfen F, Djuharto, dan Kristiana L (2011) Kajian Hukum Peran Apoteker dalam Saintifikasi Jamu. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 15 No. 1 Januari 2012:20-25, Surabaya.

Suharmiati, Handayani L, Supardi S, Bahfen F, Djuharto, Kristiana L, Supriyadi (2011). Kajian Hukum Peran Apoteker Dalam Saintifikasi Jamu, Laporan Akhir Penelitian, Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan , Kementerian Kesehatan RI, Surabaya.

Sutrisna E, 2016, Herbal Medicine: Suatu Tinjauan Farmakologis (Buku Ajar Mata Kuliah Herbal Medicine Mahasiswa Kedokteran), Muhammadiyah University Press, Surakarta.

 

Penulis:

Indra Yudhawan, S.Farm., Apt. [email][linkedin][facebook][youtube]

 

Lihat Juga:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
Iklan
%d blogger menyukai ini: